Healing

Menjadi ibu itu kuncinya cuma satu: sabar.

Menjadi ibu dan istri yang sempurna tentu menjadi keinginan semua wanita yang sudah berumah tangga dan memiliki anak. Anak dan suami terurus dengan baik, rumah bersih dan rapi, serta diri sendiri yang tetap cantik dan langsing menjadi cita-cita hampir semua ibu di dunia. Tapi mengurus segalanya seorang diri kadang benar-benar menguras emosi. Kalau hanya capek, istirahat dan pijit sudah membantu. Tapi lebih sering beban psikis, stress membuat kepayahan. Hal inilah yang kerap membuat saya jahat terhadap anak saya, membiarkannya bermain seorang diri atau menangis karena terlalu lelah dan marah, sekaligus untuk melihat seberapa peduli seorang ayah pada anaknya. Tapi namanya ibu, tidak tega juga lama-lama melihat anak menangis tanpa segera dibantu/dipeluk. Tetaplah ibu yang harus turun tangan. Tidak jarang pikiran gila melintas serasa mati muda atau udahlah cukup, capek nggak mau lagi. Tapi setiap kali saya kacau, sejak hari pertama putri kami dilahirkan, saya kerap berbicara pada diri sendiri, “kamu harus kuat untuk anakmu, kamu harus bertahan dan sabar karena kamu bertanggung jawab mengurus dan menjaganya hingga ia bisa menjaga dirinya sendiri. Hanya kamu. Jika kamu tidak ada, apa yang akan terjadi pada gadis kecil ini?” Dan melihat putri kami seketika meluluhkan saya. Ya, demi dia. Ada seorang anak yang membutuhkanmu, yang kepadamulah ia bergantung, yang kepadamulah ia mempercayakan dirinya, ibu. Bersabarlah. 

Apakah suami saya tidak membantu hingga saya begitu lelah? Tentu saja dia membantu. Tapi dia punya pekerjaan sendiri. Dia bertanggung jawab untuk keluarga dan orang-orang yang bergantung pada pekerjaannya. Saya berusaha untuk tidak mengganggunya bekerja hanya untuk melakukan hal sepele seperti menjaga anak selagi saya harus mengerjakan pekerjaan rumah. Saya berusaha untuk tidak mengganggunya ketika beristirahat demi hal remeh seperti menemani anak bermain saat saya harus mandi atau keluar rumah. Saya berusaha untuk tidak meledak marah saat anak kami yang masih kecil belum mengerti keinginan ibunya (seringnya untuk tidur) sedangkan saya sudah capek dan pekerjaan tak kunjung habis. Sejak hari pertama putri kami dilahirkan, saya tetap berusaha. 

Apakah suami saya tidak membantu? Dia ada di rumah, bekerja sibuk mengurus ini dan itu. Bahkan tidak jarang kami meminta bantuan orang lain untuk sekadar mengantar anak pijat seminggu sekali saat weekend karena suami saya tidak sempat mengantarkan kami, pekerjaannya memang tidak mengenal libur. Sampai akhirnya saya stop karena kerap merepotkan dan itu rutin. Malu. Kenapa tidak naik taksi? Saya bukan orang yang pandai menjaga diri dan beberapa hal membuat saya ektra waspada. Konsekuensinya? Anak jadi lebih rewel dan tidurnya tidak nyenyak. Gelisah karena mungkin badannya capek. Dan saya belajar otodidak memijat bayi meski tidak seprofesional terapis. Itu tanggung jawab saya, ibunya. Sebagai istri saya harus mengerti.

Semua kegiatan keluarga dilakukan sesuai jadwal longgar suami. Tidak sedikit rencana yang kami batalkan atau kegiatan yang tidak bisa kami hadiri karena ketidakcocokan dengan jadwal pekerjaan suami. Pekerjaan suami saya memang menyita banyak sekali waktu, banyak sekali hal yang harus dia urus seorang diri. Tidak apa. Untuk keluarga, pekerjaan, dan orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan itu. Sebagai istri saya harus mengerti.

Sudah menjadi komitmen kami di awal pernikahan jika suami mengurus masalah ekstern dan saya sebagai istri mengurus masalah intern. Untuk itulah saya tidak diperkenankan bekerja demi menjaga kestabilan keluarga. Tapi ada hal yang mungkin suami saya lupa. Manusiawi. Karena terlalu sibuk, mungkin dia lupa sebagai istri terkadang saya juga butuh bantuan darinya. Karena sedikitnya waktu luang, mungkin dia lupa jika anaknya butuh peran seorang ayah yang tidak bisa digantikan oleh ibu. Karena pekerjaan yang begitu melelahkan, mungkin dia lupa jika mengurus anak bukan tanggung jawab saya seorang diri. Mungkin dia lupa. Atau mungkin tidak. Masih ada setidaknya satu jam setiap tiga hari atau seminggu sekali, dia menyempatkan mengantar kami buru-buru berbelanja kebutuhan rumah dan kebutuhan MPASI anak kami karena saya yang tidak bisa mandiri menyetir sendiri. Setidaknya beberapa kali di tengah kesibukan yang tidak ada habisnya, dia menyempatkan diri melihat anaknya. Setidaknya dia tetap meluangkan waktu sebentar untuk makan bersama. Mungkin saya saja yang gampang mengeluh dan kurang berusaha lebih keras lagi. Sebagai istri saya harus mengerti.

Apakah saya tidak protes akan kesibukan suami saya yang seolah tidak ada habisnya? Tentu saja. Saya kerap mengomel karena ingin dimengerti, ngambek dan merajuk untuk hal-hal sepele yang tidak perlu diributkan. Saya kerap kesal karena ingin dibantu padahal pekerjaan suami saya juga begitu banyak. Dan anak saya juga kerap menjadi korban. Saya jadi membiarkannya bermain sendiri karena tidak mood saat ia mengajak saya bermain atau mendiamkannya saja saat saya jengkel dengan suami saya. Beruntung anak saya pengertian dan sabar saat ibunya sedang kacau. Mama ini ya, jengkelnya sama siapa marahnya sama siapa. Maafkan mamamu yang tidak sabaran ini ya, Nak. Sabar ma, sabaaaarr.

Dan masih banyak hal sepele lain yang, entah kenapa, tetap membebani pikiran saya. Seperti ketika ditanya keluarga/kerabat, kapan anak saya punya adik? Saya kerap berpikir, kenapa anak saya harus punya adik? Bukankah sedikit dan terurus itu lebih baik daripada banyak tapi tidak terurus? Saya merasa belum mampu mengurus lebih dari satu anak seorang diri.

Saya masih ingat saat melahirkan anak pertama kami, suami saya tidak bisa terus menemani karena harus bekerja. Pekerjaannya tidak bisa menunggu tapi istrinya yang hendak melahirkan, bisa. Toh ada ibu dan mertua saya yang menemani saya. Toh ada dokter dan perawat yang selalu standby, tinggal pencet bel jika saya butuh apa-apa. Begitu, mungkin. Mertua saya orang yang sangat sibuk tapi beliau juga sangat menyayangi saya. Beliau bergantian dengan ibu saya menjaga saya di ruang bersalin. Saat ibu beristirahat, mertua saya yang membantu menjaga saya selagi suami saya bekerja. Begitu terus bergantian selama lima hari. Tapi tentu saja tetap ada rasa canggung. Saya merasa tidak enak hati jika harus minta tolong dipapah ke kamar mandi bolak balik tiap menit. Tapi juga tidak bisa sendiri karena badan sudah sakit dan sempoyongan. Jika sampai terjatuh atau pingsan di kamar mandi, itu lebih membahayakan bayi saya. Proses persalinan saya membutuhkan waktu yang cukup lama. Saya tahu semua orang lelah dan kurang istirahat. Sebenarnya saya sudah divonis SC hingga dua kali tapi saya memilih tetap spontan saja karena takut. Saya memilih menahan lima hari kontraksi demi untuk melahirkan spontan jika memang keadaan masih memungkinkan. Selama lima hari itu pula saya dipaksa untuk tetap makan dan minum serta cukup istirahat. Entah itu sebutir kurma, segigit pisang, atau pun seteguk air putih agar tetap memiliki tenaga saat tiba waktunya bersalin. Saya juga harus tetap cukup istirahat entah itu hanya 5 menit atau pun satu menit agar tidak kelelahan dan pingsan saat persalinan. Saya juga tidak boleh ngeden sebelum waktunya. Tapi dengan kontraksi seperti itu bagaimana bisa? Kebayang nggak sih?

Tibalah waktu persalinan. Sesaat setelah pembukaan lengkap, dokter sempat menanyakan ingin ditemani siapa saat proses melahirkan, hanya boleh satu orang. Suami saya lekas menjawab, “ibunya saja yang lebih berpengalaman” katanya. Apakah saya sedih? Tentu saja. Sebagai istri saya ingin ditemani suami saya saat melahirkan anak kami. Tapi saya harus sabar karena mungkin ada banyak pekerjaan yang menunggunya. Karena toh ditemani atau tidak, saya tetap harus melahirkan anaknya karena sang bayi sudah ingin keluar dan juga memang sudah ditunggu-tunggu. Saya hanya harus berpikir positif. Setidaknya ada ibu saya yang menemani. Setidaknya ada orang yang dengannya saya memiliki kedekatan sehingga tidak terlalu sedih dan merasa sendirian. Bukan hanya ditemani dokter dan perawat. Sebagai istri saya harus mengerti.

Sampai akhirnya anak kami lahir. Perjuangan 5 hari menahan sakit dan tidak tidur terbayar sudah. Putri kecil kami yang cantik dan sehat. Semua bahagia. Ibu saya berulang kali mengecup kening saya sambil berkata Alhamdulillah nduk. Terus menerus berulang kali saat saya memeluk putri saya dalam dekapan saya. Seperti ini harunya menjadi ibu. Saya hanya bisa meminta maaf tanpa bisa menjelaskan pada beliau segala hal yang saya mintai maaf. Maaf untuk merepotkan ibu bahkan setelah saya seharusnya mandiri berumah tangga. Maaf karena ibu harus menemani dan menjaga saya, memapah saya ke kamar mandi padahal saya tahu ibu lelah sekian hari tanpa istirahat dan sedang berpuasa. Maaf karena ibu harus membersihkan muntahan saya, membantu mengganti diaper saya meski saya tahu itu menjijikkan. Because nobody would. Mereka jijik, ibu mungkin juga jijik, tapi ibu tetap di sana membantu saya. Saya melihat wajahnya khawatir saat dokter memintanya keluar ruang bersalin karena saya bleeding hingga dua kali. Dokter hanya bilang, “ibu bleeding lumayan banyak. Ibu harus tenang, pikirannya harus ayem supaya bleeding-nya cepat melambat dan tekanan darahnya stabil. Peluk bayinya bu biar tenang” Segala cara saya lakukan agar pikiran saya tenang, saya memeluk putri saya. Saya hanya berdoa, meminta ijin dan kesempatan untuk merawat putri saya. Begitu saja. Berulang-ulang sampai bleeding berhenti. Alhamdulillah. Sebelumnya saya berencana memberi tahu ibu saat bayinya sudah lahir saja karena jarak rumah yang cukup jauh. Tapi kini sulit saya bayangkan bagaimana jadinya jika saat itu tidak ada ibu? Maaf untuk selalu merepotkan ibu.

Sampai di rumah, pekerjaan lain menunggu. Harus lekas bersih- bersih dan merapikan segalanya. Suami saya sempat pulang di hari ketiga untuk bersih-bersih. Tapi 5 hari itu tidak sebentar, pasti sudah kotor lagi. Ditambah ada bayi, saya harus memastikan ruangan bersih. Bongkar koper, cuci pakaian kotor, ganti sprei meski badan masih tidak karuan rasanya. Karena tidak mungkin suami saya yang melakukan semua pekerjaan itu. Dia sudah lelah kurang istirahat selama di rumah sakit dan bekerja. Lebih tidak sopan lagi jika saya meminta ibu yang melakukannya meski beliau menawarkan diri. Sementara bayi saya dalam pelukan ibu saya dan nyenyak tertidur, saya melakukan pekerjaan lain. Mengurus bayi pun saya harus dibantu karena toh saya tidak tahu apa-apa. Sampai ketika harus mengurus sendiri baru terasa rasanya sabar dan menahan diri. 

Ada anggota keluarga baru tentu banyak kerabat yang berkunjung. Banyak yang bilang saya lebih putih setelah melahirkan (kulit asli saya coklat) tapi mereka tidak tau itu disebabkan karena kehilangan banyak darah. Itu bukan putih tapi pucat. Setiap melihat cermin saya ngeri. Wajah saya sudah seperti mayat. Saya sedih tapi juga tidak bisa menyalahkan mereka karena mereka tidak tahu. Saya cuma bisa sabar.

Belum lagi drama ASI yang membuat saya menangis setiap kali anak lapar. Bukan karena sakitnya disusui, tapi karena ASI saya awalnya tidak cukup untuk anak saya. 2,5 bulan saya dibantu adik ipar saya untuk memenuhi susu anak saya, setiap hari mengambil ASIP dari rumahnya. Posisi yang serba sulit dan tidak menyenangkan. Malu dan sedih, saya sebagai ibu merasa bersalah pada anak saya karena hanya menyusui satu anak saja tidak bisa cukup. Kalah sama kucing yang anaknya banyak. Hampir setiap hari saya menangis, stress, kapan bisa menyusui sendiri tanpa dibantu ASIP. Hal itu sebenarnya buruk karena stress menganggu kelancaran ASI. Sebagai ibu saya harus sabar. Sebagai istri saya harus mengerti. Belum lagi drama MPASI anak susah makan, makanan disebar tidak dimakan atau anak masih ingin main tapi ibu sudah lowbatt. Saya terlalu banyak mengeluh, itu benar.

Ditanya kapan punya anak lagi? Membayangkan setahun ini dan harus mengulanginya lagi dan lagi, saya merasa belum sehebat itu. Meski itu ladang pahala, saya belum siap. Suami saya sih sudah, saya saja yang belum. Belum lagi rencana homeschooling untuk anak kelak. Saya kerap bertanya pada diri saya sendiri apakah saya mampu? Dengan satu orang anak saja saya belum sempurna menjadi ibu dan istri bagaimana jika lebih? Tapi membayangkan predator anak saat ini lebih mengerikan. Dengan kegiatan yang tidak seberapa saja saya kerap mengeluh, mengomel, dan nggak sabaran, bagaimana jika ditambah? Mungkin saya saja yang kurang berusaha lebih keras, ya? Saya tidak paham bahasa bayi. Bahkan hingga anak kami hampir satu tahun ini pun saya hanya bisa mengira-ira apa maunya. Saat ia menangis atau “berbicara” kepada saya, saya masih mengira-ira apakah ia bosan, marah, lapar, haus, takut, minta gendong, sakit, lelah, mengantuk, pup, atau apa? All I know is she’s trying to connect with me and all I can do is learning to understand her. Semua kemungkinan saya coba dan tidak jarang saya keliru mengira-ira maunya. Saya bahkan kerap jengkel kenapa saya belum juga bisa memahami keinginan anak sendiri. Sabaaaaarrr. Sebagai ibu saya cuma bisa sabar.

Semakin besar anak saya semakin pintar dan tidak bisa ditinggal terlalu lama. Sudah 3 kali anak saya jatuh dari tempat tidur saat saya tinggal di dapur atau bersih-bersih rumah. Beberapa kali saya menemukan anak saya memakan mainannya, kertas, tissue, puzzle karet, atau benda berbahaya lain saat saya tinggal mandi atau mengambil minum. Beberapa kali anak saya terantuk dinding saat ia belajar merangkak dan berdiri saat saya terlelap di sampingnya kelelahan. Saya sudah mencoba menghindarkan benda berbahaya dari sampingnya tapi kadang saya lalai. Yang bisa dilakukan anak saya tentu saja menangis sejadi-jadinya. Jika saya tidak teledor dan lebih waspada dalam menjaganya tentu hal itu tidak akan terjadi. Saya harus mengalah dan kerap membiarkan rumah berantakan sedangkan saya sibuk bermain dengan anak. Oh tidak ibu, ibu hanya malas. Ibu bisa mengerjakan pekerjaan rumah atau pergi kemana-mana sambil menggendong anak. Dan VIOLA!!! Pekerjaan selesai, anak tetap terjaga dengan baik. Saya bisa melakukannya tapi tubuh saya menolak. Tidak sambil menggendong saja saya kerap mengeluh capek. Ibu harus tetap sabar dan tidak boleh sakit. Kalau ibu sakit semua makin tidak terurus dan berantakan. Itulah excuse untuk kemalasan saya. 

Tidak jarang saya harus tidur sambil menggendong anak saya, makan sambil memangkunya, atau mengajaknya ke kamar mandi saat buang air. Tapi semakin besar anak saya tidak betah dipangku terlalu lama, dia lebih senang bergerak. Jadi saya biarkan dia menonton video anak-anak saat saya harus ke kamar kecil meski saya tahu hal itu kurang baik.  Tidak jarang di tengah-tengah saya makan, anak saya tiba-tiba buang air besar. Meski tidak berselera saya tetap harus melanjutkan makan. Sebagai ibu saya harus sabar. Ibu harus makan, anak ibu masih ASI dan dia butuh asupan dari ibunya, begitulah mantera saya di dalam hati. Tidak jarang saya sudah menyiapkan makanan tapi tetap saja masih ada makanan tersisa karena beban pekerjaan membuat suami tidak nafsu makan. Apakah saya sedih? Tentu saja. Tapi saya sadar tidak bisa membantu meringankan pekerjaannya, setidaknya saya mencoba untuk tidak menambah beban dengan tidak protes ini dan itu meski saya juga masih kerap protes ini dan itu. Saya cuma bisa mendoakan setiap hari semoga selalu diberi kelancaran, kesehatan, dan keselamatan saat bekerja di rumah maupun di luar rumah. Sebagai istri saya harus mengerti.

Pernah pula satu waktu saya menangis, meraung-raung seperti orang kehilangan akal. Menangis entah karena ketidakbecusan saya mengurus anak, suami, rumah, dan diri saya sendiri. Entah karena ketidakbecusan saya mengurus segalanya. Saya menangis, berteriak, tertunduk di pangkuan anak saya. Anak saya hanya diam. Dia tidak ikut panik atau menangis melihat ibunya. Dia hanya mem-puk-puk kepala saya sambil entah bicara apa dengan bahasanya yang belum juga saya pahami. Mungkin, “sudah mama, jangan menangis” atau yang lainnya. Yang saya tau adalah dia mencoba menenangkan saya. Alih-alih berhenti menangis, saya malah makin histeris. Kalau dipikir sekarang ya malu sendiri, mana ibu mana anak. Saya tahu menangis di depan anak itu tidak baik tapi pada saat itu saya sudah benar-benar tidak tahan. 

Hal lain yang juga kerap mengganggu adalah soal pola asuh. Bukankan  sudah seharusnya pola asuh menjadi hak orang tua? Kenapa orang lain harus ikut capek-capek pusing-pusing ikut mempolakan pengasuhan yang bukan anaknya? Saya kerap ditanya “kenapa anaknya tidak begini begitu, kenapa anaknya harus begini begitu, kenapa anaknya tidak boleh begini begitu. Orang dulu anaknya begini ya baik-baik aja, orang dulu anaknya tidak harus begitu juga sehat-sehat saja. Serius amat sih jadi orang tua baru?” Iya memang saya serius, menjadi orang tua bukan main-main setidaknya untuk saya. Jika kamu ingin seorang anak begini begitu dan lain sebagainya silakan terapkan ke anak sendiri tapi jangan anak kami. Kami punya pola asuh sendiri yang tentu saja sudah dipikirkan untuk tujuan yang baik. Saya tahu maksudnya mungkin baik, mungkin saya saja yang terlalu sensitif.  Tapi tolong biarkan kami yang memutuskan mana yang baik dan tidak untuk anak kami. Saya kan ibunya, saya leader-nya. 
Apakah saya marah saat menulis ini? Iya saya marah, kesal, jengkel, sedih untuk hal yang seharusnya tidak saya pusingkan berlarut-larut. 

Kenapa saya menulis ini? Karena hanya menulis yang bisa saya lakukan untuk mengurangi beban hati dan menyembuhkan luka-luka saya. Sampai saat ini hanya menulislah yang saya tau paling manjur untuk saya mengontrol emosi dan stress saya. Saya menulis agar saya tak lagi marah, kesal, jengkel, dendam, dan sedih. Saya menulis agar saya kembali gembira dan anak saya tetap ceria. Saya, dulu, menulis untuk healing diri saya sendiri. Saya, kini, menulis untuk diri saya dan anak saya. Karena darinya saya belajar sabar. Learn to not stuck on my own problems and focus on what makes her happy.

Tulisannya terlalu panjang ya? Hahaha iya memang. Untuk siapa pun yang membaca tulisan ini, saya tidak bermaksud menakut-nakuti jika berumah tangga itu tidak selalu menyenangkan, melahirkan itu menyakitkan dan mengerikan, mengurus anak itu melelahkan, atau hal buruk lainnya. Tidak sama sekali. Saya tetap bahagia sebagai ibu rumah tangga dengan segala lika-likunya. Saya tetap bahagia bisa merawat anak kami apapun tantangannya. Seperti mantra andalan saya: sebagai ibu saya harus sabar, sebagai istri saya harus mengerti.

Sabar ya, Pa. Udahlah capek kerja, mau tidur istirahat malah dipanjat 😅