Katanya menjadi ibu rumah tangga itu pekerjaan paling mudah dilakukan. Cukup diam di rumah, dijatah suami.
Iya itu benar, jika tiap departemen pekerjaan ada penjaganya masing-masing. Departemen pekerjaan rumah tidak banyak, hanya seputar: cucian, masakan, kebersihan rumah, jaga anak dan suami. Berkutat di hal-hal sepele itu saja. Tapi tidak semua orang seberuntung Nia Ramadhani bisa gaji banyak pegawai untuk mengurus tiap departemen karena toh kalo satu orang juga tetap kewalahan. Bangun tidur dengan pertanyaan yang sama, “mulai dari mana dulu hari ini?” dan menguatkan diri dengan mantra yang sama pula, “kita bisa melewati hari kemarin jadi mari kita temukan cara melewati hari ini”
Katanya jadi ibu rumah tangga itu pekerjaan paling santai. Mau jalan-jalan liburan nggak perlu nunggu tanggal merah atau cuti. Mau istirahat nggak perlu nunggu jam makan siang. Mau ke salon nggak perlu nunggu jam pulang kantor. Kapan aja bisa. Benarkah? Tapi lagi-lagi tidak semua orang seberuntung Nia Ramadhani, yang bisa kemana-mana tanpa ketempelan 24 jam. Mandi pintu digedorin atau seperti terdengar tangisan bayi padahal anaknya tidur. Makan sesuap dua suap anaknya pup, selesai bersihkan terpaksa makan lagi napsu ga napsu. Kemana-mana gendong gandeng karena anak maunya diajak. Bahkan sampe urusan buang hajat aja diintipin. Tidak ada yang bertanya padanya mau dimasakin apa karena dialah juru masak di rumah. Tidak ada yang memilihkan baju untuknya seperti ia menyiapkan baju anggota keluarga karena baju kebangsawanannya cukup daster-kolor-daster-kolor. Kalo ada yang datang ke rumah liat mainan anak berserakan sementara ibunya istirahat sambil nonton atau main handphone udah dijudge “seharian ngapain aja?” Padahal yang dilihat hanya sekelumit, tak lebih lama dari lima menit.
Masa muda wanita hanya sebentar. Begitu menikah, dia dipanggil “Bu (nama suami)”, ketika punya anak di rumah dia dipanggil ibu/bunda/umi/mama, dan ketika anaknya masuk sekolah ia akan dipanggil “Ibu/Bunda/Umi/Mama (nama anak)”. Dia kehilangan identitas. Tidak ingat siapa dan kapan terakhir kali ada yang memanggil namanya, bahkan tak jarang ada yang tidak tahu namanya sama sekali.
Tahu dimana letak equality padahal katanya zaman sudah maju begini? Jika seorang bapak bisa keluar rumah, kerja, atau sekedar kumpul ngopi dengan temannya tanpa anak dan istri yang ikut, kenapa ibu tidak bisa? Mau kumpul anak diajak, arisan anak diajak, ke mall anak diajak, ke salon anak diajak, keluar 5 meter dari rumah juga anak minta diajak. Kalo seorang bapak bisa konsentrasi penuh menekuni hobbynya, seorang ibu bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali mendengarkan lagu kesukaannya karena tiap hari mendengarkan lagu anak-anak. Jika seorang ibu cuti kerja untuk jaga anak tidak pernah ditanya perihal suaminya, tapi kenapa kalo bapak cuti jaga anak ditanya istrimu kemana? Kenapa hanya ibu yang dituntut untuk selalu tampil cantik padahal ibu juga bahagia kalo bapak itu ganteng dan rapi? Setiap kegiatannya selalu diselingi interupsi, distraksi, dan mood yang kocar-kacir tiap hari. Maka jangan salahkan dia jika sudah terlalu lelah hingga tidak ingin berbuat apapun lagi.
Menjadi ibu rumah tangga harus bisa mengelola kebutuhan. Dia yang biasanya di rumah diurusin orang tuanya tiba-tiba memutuskan untuk belajar masak sendiri, urus pekerjaan rumah dan anak sendiri demi sedikit menghemat pengeluaran. Jadi sebelum menanyakan kenapa uang bulanan cepat habis coba kroscek dulu uang itu dibelikan apa. Untuk keperluan keluarga atau untuk keperluan pribadinya? Atau coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali dia menghadiahi dirinya sendiri? Kalau tiap hari ada teriakan “paket” coba dilihat apa isinya keperluan anak, keperluan rumah, atau isinya baju, sepatu, tas, makeup, atau barang nggak penting lain? Atau coba dipisahkan mana yang uang untuknya pribadi dan keluarga, lalu tengok kira-kira lebih cepat habis yang mana.
Menjadi ibu rumah tangga tidak jarang membunuh impian-impiannya. Bahkan impian sesederhana membahagiakan ayah ibunya, mimpi yang ada bahkan sejak sebelum kelulusannya. Sering dipandang remeh karena hanya yang menghasilkan uang yang dianggap berdaya. Sebesar apapun usahanya, ada saja yang mengerdilkan dengan syarat yang mengada-ada. Itu baru di keluarga saja, belum urusan mertua yang suka ngatur atau tetangga yang suka ikut campur. Katanya jadi ibu harus bahagia dulu, agar yang lain juga bahagia. Tapi kenapa kebahagiaannya selalu ada di urutan nomer lima? Selepas anak, suami, keluarga mertuanya, keluarga orang tuanya, barulah jika sempat, dirinya.
Masyarakat kita mengherankan sekali. Mengharuskan ibu rumah tangga tak boleh lelah juga tak boleh mati. Bahkan ketika ia depresi atau yang terburuk memutuskan bunuh diri, masih saja dihakimi kurang iman dengan hujatan kalimat-kalimat tak terpuji. Memangnya mereka tidak punya hati dan tidak punya emosi? Kenapa menjadi ibu rumah tangga dituntut selalu sempurna, seolah mereka bukan manusia. Apa dengan menjadi ibu rumah tangga tiba-tiba perempuan jadi punya kekuatan dewa?
Menjadi ibu rumah tangga itu mudah. Ibu rumah tangga tidak dilarang berbuat apapun, pergi kemana pun, dan kapan pun, hanya saja seringnya tidak diberikan kesempatan.